Kenapa Lanjut S2?
Ini
pendaftaran pascasarjana saya yang ketiga kalinya setelah beberapa kali lolos
pendaftaran berkas tapi tidak melunasi daftar ulang. Beberapa pertimbangan saat
itu tidak melengkapi sampai tahap akhir, yang paling mengenaskan sudah lolos
dan diberikan kesempatan oleh pihak kampus, di waktu yang bersamaan saya
keterima Pendidikan Profesi Guru.

Dari beberapa
konteks yang paling masuk akal, selain kegiatannya yang saya rindukan proses
belajar di kelas adalah kegiatan yang sangat candu bagi saya. Selain urusan
hubungan percintaan yang tidak bisa saya selesaikan solusinya, mending saya
melanjutkan pendidikan. Disibukkan dengan hal yang masih bisa saya selesaikan
dengan penalaran hehe.

Setelah
selesai S1 saya disibukkan dengan kegiatan pekerjaan mengajar di satuan
pendidikan swasta sekolah menengah pertama. 3 tahun mengajar di instansi swasta
saya mendapat panggilan untuk Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan di mana
perlu melakukan daring selama beberapa bulan. Setelah selesai dalam kurun waktu
setahun hingga proses sumpah profesi, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar
S2. Melalui diskusi panjang dengan orang tua dan dorongan diri sendiri, kali
ini tahapan saya hingga daftar ulang.
Beberapa
alasan saya melanjutkan pendidikan di usia 30 tahun dan rentang lulus S1 cukup
jauh 6 tahun.
1.
Menyukai dunia belajar, kegiatan transfer ilmu
pengatahuan yang saya rindukan ialah dikejar-kejar deadline tugas dan
melakukan presentasi di depan para dosen. Saling bertukar argumen dengan sesama
teman di lingkungan pendidikan.
2.
Relasi di dunia pascasarjana jelas berbeda
dengan relasi saat S1. Di S2 sudah sangat dewasa dan bagus dari segi karier,
sudah sangat lama terjun di lapangan dan mengaplikasikan ilmu dari segi
penerapannya.
3.
Penalaran sekolah pascasarjana akan berbeda saat
Strata 1, di pascasarjana akan lebih teoritis dan banyak diskusi dengan sesame
rumpun terkait.
4.
Jenuh dan bosan menunggu jodoh, daripada waktu
saya habis dipakai untuk hal yang penuh ke-overthingkingan yah mending saya
lanjut sekolah lagi. Jelas pikiran saya disibukkan dengan tugas bukan dengan
urusan percintaan.
5.
Prestise dari segi bidang keilmuan di masa
depan, saat S1 saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
di S2 kini pun saya masih mengambil jurusan yang linear dengan jurusan
perkuliahan saat S1.
6.
Prospek jenjang karier di masa depan, walaupun
saya sudah sertifikasi di tingkat dikmen kemendikbud. Tidak menutup kemungkinan
jika formasi dan peluang menjadi kepala sekolah dan dosen di perguruan tinggi
itu ada di masa depan. Kita tidak akan pernah tahu kapasitas diri kita sebelum
mencobanya.
7.
Membangun sebuah instutisi pendidikan
Bagi
teman-teman yang berencana melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
saya sarankan untuk menyelesaikan terlebih dahulu study Strata 1-nya.
Berdiskusi dengan orang tua, pasangan jika sudah menikah, karena komunikasi
penting dan ke depannya pasti akan ada beberapa tugas yang dikerjakan dan
memakai waktu senggang di rumah.
Apakah
linearitas jurusan itu perlu? Saya kembalikan lagi kepada teman-teman, jika
teman-teman ingin mahir di bidang yang sama saat kuliah S1 baiknya sama agar
relevan dengan pekerjaan yang diminati setelah lulus. Namun, jenjang yang sama
saat kuliah pascasarjana tidak mesti linear saat kuliah strata 1. Misalnya saya
pada awalnya di bidang Pendidikan, sehingga saat melanjutkan pascasarjana akan
mengambil jurusan yang relevan dengan S1. Saya berpikir pasti di dunia
Pendidikan akan terus berubah seiring berkembangnya zaman. Mengingat kurikulum
saat ini sangat dinamis, mengikuti perkembangan zaman.
Tapi kalau pun
tidak sama, itu kembalikan lagi dengan bidang pekerjaan yang sedang dilakukan,
tidak sedikit orang-orang mengambil jurusan yang berbeda pada saat kuliah S1
nya dahulu. Saat saya mendaftar ada 2 jurusan yang membuat saya penasaran, yang
pertama jurusan teknologi Pendidikan di mana yang dipelajari terkait dunia
perkurikuluman dan proses pembelajaran. Kedua jurusan Pendidikan Anak Usia
Dini, sebelum saya memutuskan untuk kembali memilih Pendidikan Bahasa Indonesia
di program studi Pascasarjana.
Ke depannya
ada hal besar yang ingin saya buat selain mengembangkan potensi diri. Saya
ingin menciptakan karya yang berdampak bagi masyarakat yang erat kaitannya
dengan dunia literasi. Baik itu menciptakan lembaga swasta atau kelompok
belajar yang ramah bagi anak-anak. Gambaran seperti itu muncul di benak saya
semenjak menjadi guru. Rasanya mustahil jika hanya mengingat dan merefleksikan
diri dari proses pembelajaran saja namun tidak ada hal yang ingin dilakukan
demi dunia Pendidikan. Ya semoga mendapatkan sosok seseorang yang mendukung
segala kehaluan saya selama ini tanpa menjudge itu tidak akan terjadi.
Semoga terinspirasi
Komentar