Desa Kanekes: Baduy Dalam
Menjelang akhir tahun 2025 aku
mengikuti open trip yang ada di media sosial Tiktok bernama Wisuba Baduy. Ini menjadi
open trip pertama yang diikuti dari media sosial. Perjalanan dimulai pagi hari aku
berangkat dari Stasiun Rawa Buntu menuju Stasiun Rangkasbitung cukup memakan
waktu 1,5 jam perjalanan. Tiba di Stasiun Rangkasbitung tempat meeting point
aku bertemu dengan teman-teman yang akan trip ke Baduy Dalam, jumlah kami ada
20 orang dan keberangkatan ke Baduy Luar menggunakan mobil elf dan angkot. Butuh
waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Stasiun Rangkasbitung menuju Desa Kanekes
yang berada di baduy luar, sebelum trekking kami diizinkan untuk makan siang
dan persiapan solat zuhur karena membutuhkan waktu sekitar 3 jam jalan kaki menuju
Baduy dalam.
Selama perjalanan dari Baduy luar ke
Baduy dalam kami ditemani oleh Ka Ahok sebagai guide dari tim Wisuba, Satria
(baduy dalam), Ayah Zamah (baduy dalam) dan beberapa anak dari suku baduy
dalam. Ini pengalaman pertamaku menginap di baduy dalam, selama perjalanan
mataku dihiasi oleh pemandangan hijau, asri, tidak ada polusi dan suara bising
kendaraan. Trekking yang naik turun di lembah, kanan kiri terkadang kami
bertemu dengan jurang, akar pohon yang besar, karena kondisinya sedang gerimis
jadi membuat jalur pendakian berlumpur dan sulit dilewati. Namun, bersyukurnya
ada akar pohon yang jadi penopang jalur trekking kami, bukan sawit ya teman-teman
hehe.
Baduy luar dan baduy dalam berada di Desa
Kanekes kedua suku ini berada dalam satu desa dan masing-masing suku memiliki
tiga dusun. Tiga dusun di baduy luar dan tiga dusun di baduy dalam, berdasarkan
aturan adat dari kedua suku ini tidak boleh bertambah dusun atau pun berkurang.
Menuju baduy dalam kami perlu melewati 3 jembatan bambu, tiga jembatan bambu di
baduy luar dan 3 jembatan bambu di baduy dalam. Sampai akhirnya aku tiba di
jembatan yang menghubungkan ke baduy dalam, sebelum melewatinya kami
diinstruksikan untuk mematikan elektronik dari handphone, alarm hp, kamera
digital, slr, tidak memakai bahan kimia, dan untuk menjaga lisan saat
berkomunikasi di dalam. Karena pada dasarnya kami sebagai tamu harus memahami
adat setempat dan tetap menjaga etika berkunjung.
Suku baduy dalam memiliki ciri khas
hanya memakai 2 warna berpakaian yaitu warna hitam dan putih, memakai penanda
di kepala berwarna putih, mereka tidak memakai alas kaki, tidak boleh memakai berbahan
kimia, dan kepercayaan sunda wiwitan. Yaitu kepercayaan kepada alam. Suku baduy
luar berbeda dengan baduy dalam, masyarakat baduy luar boleh memakai selaian warna
hitam, memakai alas kaki dan menggunakan berbahan kimia. Namun secara kepercayaan
mereka memegang sunda wiwitan. Masyarakat baduy sudah sejak lama mengenal
transaksi perekonomian, mereka berjualan hasil bumi yang diperjual belikan ke wisatawan
yang mengunjunginya. Berupa madu lebah, kain baduy, kerajinan tangan, gula
aren, dan durian yang bisa dimakan langsung bersama warga suku baduy.
Di baduy ada padi, mereka menamainya
padi huma yaitu sejenis padi yang ditanam di darat bukan dari persawahan. Panenanya
hanya 2 kali dalam setahun, hasil padinya dikumpulkan di gubug bernama Leuit,
yaitu berbentuk rumah khusus hasil bumi yang dipanen warga baduy luar dan baduy
dalam. Setiap leuit berisi hasil panen yang diperuntukan untuk agenda perayaan
adat, seperti pernikahan, upacara bumi, acara meninggal, dan acara adat
lainnya. Hal yang aku tahu dari suku baduy dalam yaitu mereka setiap ada yang
melahirkan dinamainya oleh ketua adat atau biasa disebut Puun. Seorang ketua
adat yang memberikan nama kepada orang tua yang baru melahirkan, sehingga
seorang ketua adat hapal semua warganya. Ada perbedaan jenis rumah di baduy dalam,
sebagai warga biasa rumah hanya terdiri dari satu pintu saja dan menghadap ke
utara, rumah ketua adat menghadap ke barat, rumah bale yang dipakai setiap perayaan
suku memiliki 2 pintu.
Selama di baduy dalam aku ditemani bersama
Athirah, anak suku baduy dalam berusia 10 tahun. Tinggal sehari di baduy dalam
aku merasakan pengalaman yang jarang aku lakukan selama tinggal di hutan,
menggosok gigi pakai daun Honje/ kecombrang, melihat kunang-kunang di hutan,
tidak ada penerangan listrik, tanpa handphone, dan menggunakan berbahan
kimia. Masyarakat Baduy dalam sangat mencintai dan menjaga alam, sikap mereka
terhadap alam wajib kita acungi jempol, memakai seperlunya bukan secara
berlebihan yang akan merusak ekosistem alam. Selama di Baduy dalam aku tidak melihat
kuburan, dan ternyata di sana tidak ada kuburan. Perayaan meninggal hanya
sampai 7 hari saja, setelah itu tanahnya boleh dipakai untuk berladang. Dari sini
kita belajar bahwa, perayaan duka cukup seperlunya saja selebihnya melanjutkan
hidup sebagaimana mestinya sebagai manusia.
Di luaran sana ada masyarakat yang
menolak modernisasi karena sebuah pilihannya untuk menjaga tradisi. Menjaga adat
istiadat, kepercayaan, dan lingkungan, dari Suku Baduy kita bukan hanya belajar
arti kesederhanaan, tapi melebihi arti dari cukup. Cukup untuk saling memberi,
sikap gotong royong, kekeluargaan. Mungkin di luaran sana masih ada yang berjibaku
bahkan kelimpungan dengan globalisasi. Tapi baduy tanpa modernisasi mereka
dapat mengajarkan kepada manusia modern, untuk tetap menjaga keasrian
lingkungan. Dari sini aku paham, lingkungan tanpa manusia mungkin akan
baik-baik saja karena mereka yang menjaga ekosistem di dalam hutan. Tapi jika
manusia dan lingkungan saling berkolaborasi untuk menjaganya, maka akan terjaga
keharmonisan alam. Mari kita jaga lingkungan kita dari perusakan yang
berlebihan, karena alam akan ditinggali oleh anak cucu kita di masa depan.

Komentar