“Teh, Ko Bisa?”
Pekan kemarin aku
dibuat bingung oleh ceritaan seseorang akan saudaranya yang dekat dengan sosok
laki-laki yang memiliki latar belakang berbeda. Di mana latar belakang
laki-laki ini sangat jauh sekali dengan si perempuan, dan dipertemukan kembali
saat sudah dalam keadaan dewasa, ya ceritanya cinta monyet. Aku bingung bagaimana
meresponnya, karena yang ku ketahui, semua orang ada di posisi seperti saat ini
itu sudah menjadi pilihannya dan tidak gampang.
Itulah kenapa
judul jurnaling ini aku pakai judul “Teh Kok bisa?” maksud aku bisa dalam hal apa?
Kalau untuk kelabilan yang aku alami setiap remaja mungkin pernah. Tapi, untuk
menentukan pilihan seseorang yang akan dibawa seumur hidup aku gamau ambil
resiko kalau memang pribadinya masih kurang baik. Bukan tugasku untuk mengubah
karakternya, ada sebuah tanggung jawab yang harus diselesaikan secara individu.
Jika karena kedekatannya dengan seseorang jadi objek motivasi rasanya harus
direvisi.
Kalau yang aku
tau, perempuan memang dilihat dari 4 aspek dalam segi agama. Pertama hartanya,
kedua nasabnya atau garis keturunannya, ketiga kecantikannya, dan terakhir
agama. Namun, yang paling menjadi faktor utama yaitu agamanya. Lalu apa yang harus
diliat laki-laki di mata perempuan? Tanggung jawab. Bibit, bebet, dan bobot pun
perlu menjadi faktor penentu. Bagaimana ia berperilaku di lingkungan
keluarganya, menghargai ibu, ayah, dan saudara perempuannya. Kedua lingkungan
yang menemani dia untuk berkembang seperti apa. Karena laki-laki saat sudah
dewasa, akan lama tinggal di lingkungan.
Lingkungan
bagi laki-laki bisa menjadi faktor yang paling penting menurutku. Kenapa? Saat ini
engga ada laki-laki yang engga suka nongkrong. Oke, aku tegaskan bersosial jika
dikatikan dengan zaman saat ini. Bersosial bukan hanya secara langsung saja,
bersosial bisa dikaitkan dengan bermain sosial media. Ia pakai untuk apa sosial
medianya, apakah hal baik atau kurang baik. Maka dari itu, perlu selektif juga bagi
perempuan. Kalau selama ini hanya laki-laki yang diminta untuk menyeleksi kaum
perempuan. Perempuan pun wajib menentukan kriteria yang kurang srek atau bahkan
setara dalam hal yang sudah menjadi tanggung jawab masing-masing.
Angka pernikahan
di Indonesia setiap tahun semakin menurun, diakibatkan saat ini baik kaum
perempuan dan kaum laki-laki sudah melek akan informasi. Dinamika dunia pekerjaan
yang sangat kompleks dan pada membuat pekerja urban semakin tidak ada waktu
dalam menjalin hubungan. Mungkin ini menjadi penentu anak lahiran 2000-an yang
dengan mudah memutuskan untuk berumah tangga. Berbeda dengan generasi
sebelumnya, yang masih berkutat dengan problematika pekerjaan dan beberapa
tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Oke, tak apa. Itu
sudah menjadi haknya masing-masing yang menjadi tujuanku di sini ialah
mengedukasi orang tua yang kebingungan keputusan yang diambil oleh anaknya. Aku
hanya berkomentar, hadeuh engga habis pikir. Sebenarnya agak aneh dan rancu,
kenapa perlu bertanya dan meminta soluasi ke aku, apa karena ketelatanku menikah
di usia segini ada sisi baiknya? Sebenarnya siapa juga yang mau telat menikah. Ya
sudah kalau memang dipercaya, ku coba menasihati dan memberikan tips yang
sedikit rasional untuk anaknya. Pertama, dunia it uluas hehe diantara keluasan
dunia aku gamau mati penasaran karena belum mencapai semua mimpi hehe. Harus ada
amalan yang ku kerjakan dan produk yang hasilkan untuk orang lain, wew visioner
sekali pantes kamu lama nikahnya hahahhaha
Kedua, urusan
orang lain mau mengomentari kehidupan kita seperti apa kan memang hanya
penonton, tandanya yang dibicarain posisinya ada di depan hahahah. Ketiga,
bekal untuk keturunan yang akan dihasilkan di masa depan. Aku ingin memberikan
rasa aman dan nyaman untuk keturunan di masa depan, sebagai perintis bahwa sekolah
yang bagus bukan hanya di negeri tapi sekolah swasta juga oke. Karier yang
bagus bukan hanya harus menjadi seorang dokter bekerja dengan sesuai passion
juga bisa kamu ambil. Nah, itu yang inginku sampaikan ke keturunanku nanti. Ya pokoknya
hidup harus ada tujuan yang jelas bukan karena mengandalkan kata sifat yang bernama
“cinta”, eh iya gak sih. Makanya saat dimintai pendapat aku yang kebingungan,
kenapa minta pendapat ke orang yang malah kurang pengalaman ini. Di mana
kegiatannya hanya monoton, gak ada relasi yang bertambah. Ternyata dibalik hujatan
yang datang karena sering ditanya ketuaan, aku baru berbangga diri saat telat
menikah daripada salah mencari pasangan.

Komentar