Mengembalikan Fungsi Diri
Manusia
makhluk sosial yang kesehariannya berinteraksi dengan individu lainnya.
Keterikatan komunikasi dan sapa menyapa membuat manusia memiliki ikatan yang
dinamakan batin. Terlebih kenyataan saat ini, seni untuk tidak membandingkan
memiliki padanan yang seharusnya erat dengan keseharian kita. Memilah sesuatu
hal yang seharusnya menjadi urusan atau bukan. Sudah seharusnya menjaga ruang
pribadi untuk tidak mencampurinya. Media sosial menjadi wadah yang sangat
krusial untuk melihat kesenangan orang lain, berinteraksi dengan seseorang yang
dikenal maupun tidak dikenal. Ada beberapa hal yang seharusnya dibagikan secara
lumrah dan menjaganya secara privasi di ruang publik. Apakah momen ini perlu
saya bagikan atau cukup saya simpan sebagai pengingat pribadi.
Namun,
kadangkala sering terjadi di tengah kesibukan mengurusi pekerjaan, ruang gerak
manusia pun terbatas akan masalah kesehatan mental yang dialami. Banyaknya
amanah yang diemban menjadi sulit mencari celah berkreasi dan berekreasi, dengan
pola yang sama manusia sibuk menimpali permasalahan yang kurang begitu penting.
Pada permasalahan ini perlunya kita dapat mendeteksi diri, pentingnya menjaga kesehatan
demi keberlangsungan hidup. Tak hanya menjaga kesehatan secara fisik, melainkan
kesehatan secara jiwa. Di dalam tubuh kita, mengalir kehidupan yang harus
diapresiasi dalam bentuk kebahagiaan yang hakiki. Lantas mengapa manusia cukup
senang dengan kata membandingkan?
Pribadi
kita pasti berbeda dengan pribadi di lima tahun lalu. Bisa saja mudah
diinterupsi, belum paham kinerja kelompok, gagap dalam hal komunikasi, dan
kurang percaya diri. Lambat laun manusia bereksperimen menjadi pribadi yang
lebih aktif dan produktif. Di tengah kesibukannya bekerja, ada komunikasi yang
tejalin dengan sesama, saling mengikat batin, dan mengisi celah pikiran. Jika
perbandingan diri baik untuk proses berkembang dan bertumbuh maka manusia akan
terus mengupayakan dirinya menjadi versi terbaiknya setiap hari.
Berikut
beberapa upaya agar pikiran dan tenaga dapat dipakai untuk hal yang lebih
positif.
Membatasi
ruang komunikasi
Kurangi
interaksi dengan seseorang yang banyak menguras energi. Obrolan yang tidak
berisi dan fokus membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Perbanyak
interaksi dengan orang-orang baru di luar dunia seputar pekerjaan. Ubah mode
ponsel dengan melambat, kita dapat memilih kapan untuk merespon pesan yang
dianggap penting dan pesan yang kita anggap kurang begitu penting. Saring
perkumpulan dengan seseorang yang kita hindari akan sibuk membahas validasi
diri.
Sejatinya, kesehatan yang perlu dijaga bukan
hanya soal fisik semata, melainkan kesehatan mental pun harus dijaga. Walau
tidak terlihat tapi sangat besar dampaknya dengan mood keseharian. Pada
dasarnya sinyal kerentanan yang dialami oleh tubuh hanya dapat dirasakan oleh
diri sendiri bukan orang lain. Kurangi aktivitas bertemu dengan orang yang sama
di waktu libur, dengan tidak membicarakan yang berbau pekerjaan maka akan me-refresh
pikiran menjadi tenang.
Memaafkan
diri sendiri
Di
dalam diri sendiri ada jiwa yang harus dimaafkan di masa lalu, peristiwa yang
dapat membawa luka terbuka kembali, perasaan yang belum selesai, dari rasa
trauma yang belum pulih. Hal yang perlu disadari yakni menyadari bahwa pribadi
kita perlu ditolong dan perlu meminta bantuan kepada seorang ahli. Sama halnya
saat menyadari bahwa tubuhmu sudah mulai rapuh jika mengonsumsi makanan
berkarbonasi. Alhasil kamu akan mencari tahu dokter mana yang membuka praktik
untuk berkonsultasi.
Kamu
akan mengonsultasikan keluhanmu kepada ahlinya yakni dokter bukan bidan hehe.
Badanku tanggung jawabku, pikiran dan tubuhku menjadi tanggung jawabku maka tidak
akan kusia-siakan siapapun untuk melukainya bahkan merusak kesehatan. Aku
berhak sembuh dan berhak mendapatkan perlakuan yang baik, maka sikap memaafkan
ini harus intens dilakukan. Lakukan dengan rutin bentuk afirmasi kata-kata,
biasanya saya melakukannya di setiap pagi dan sore. Saat pagi hal yang dilakukan
beres-beres tempat tidur, 30 menit pertama tidak akan mengecek ponsel terlebih
dahulu. Jika dilakukan secara berulang-ulang maka akan menghasilkan habits
yang bagus. Tidak salahnya kan untuk mencoba?
Pernah
mendengar pulang yang paling jauh ke mana? Menurut saya ke diri sendiri. Pulang
ke diri sendiri bagian dari proses berhenti sejenak dari tuntutan dunia luar
untuk kembali mendengarkan dan menerima suara hati yang paling jujur. Bisa saja
10 tahun lalu kamu tidak menginginkan berada di suatu tempat, kamu malas
berbincang dengan orang, malas bersosial, ingin menarik diri, hingga
memunculkan sebuah stereotif yang muncul karena hasil dari self-diagnose. Memaafkan
luka masa lalu dan memeluk ketidaksempurnaan diri sendiri, menjadi kunci yang paling
reflektif untuk tak terburu-buru mengambil keputusan. Sungguh manusia itu hanya
partikel-partikel kecil yang sulit ditebak, kerangka tulang yang sangat lunak
dan kaya akan perasa.
Kegiatan
Jurnaling
Menulis
menjadi ruang ekspresi diri dalam bentuk kata-kata. Kegiatan menuangkan isi
pikiran dalam kertas dapat menjadi kegiatan pengeluaran emosi yang dilakukan
sebelum memejamkan mata, saat keseharian sudah banyak dilalui dengan banyaknya
interaksi antarmanusia. Sebenarnya, rutinitas jurnaling ini akan menjadi
hambatan jika seseorang tidak pernah melakukannya, maka muncullah rasa malas
untuk mengerjakannya. Tapi jika dilakukan secara rutin dapat meringakan beban
yang berkecamuk di dalam pikiran, kalau memang belum yakin untuk berbincang
dengan manusia kegiatan jurnaling bisa menjadi solusi. Di era sekarang ini
bahkan sudah banyak kelas-kelas jurnaling bertebaran di media social, di mulai
jurnaling ayat Al Qur-an, jurnaling keseharian yang sudah dijalani, jurnaling
mengulas buku yang sudah dibaca. Fenomena bagus yang sayang kalau dilewati.
Coping Mechanism
Coping
mechanism atau yang dapat kita kenal sebagai mekanisme koping
sebagai strategi atau cara yang digunakan seseorang untuk menghadapi,
mengelola, dan meredakan stress, tekanan emosional, atau situasi yang tidak
nyaman. Kesibukan yang tiada henti, membuat rutinitas yang dilakukan menjadi
jenuh akan keseharian yang repetitif. Pengulangan aktivitas setiap hari membuat
perasaan jenuh muncul di dalam diri, akhirnya merambat pada produktifitas
kinerja. Jika mengenal kata kinerja pasti otomatis mengarah pada ranah penilaian
yang terasa diawasi. Salah satu bentuk coping mecanisme yang dapat
dilakukan menjadi pengalihan rutinitas yang tidak berkaitan dengan ranah “pekerjaan”.
Namun,
coping mechanism pun terbagi menjadi dua jenis, yakni upaya positif
dapat disebut dengan adaptif dan usaha tidak sehat maladaptif. Upaya positif untuk
meredakan stress tanpa merusak diri sendiri atau orang lain. Seperti berolahraga,
jurnaling, menambah hobi baru, meditasi, mencari dukungan social yang sehat
dari orang terdekat. Adapun untuk coping mechanism tidak sehat yaitu
makan secara berlebihan yang mengakibatkan pola makan tidak teratur, menarik diri
dari lingkungan, penyalahgunaan obat-batan, atau melukai diri sendiri. Sebenarnya
tubuh dan akal kita sudah diatur untuk mencari tambahan kegiatan lain jika
sudah memberikan sinyal kejenuhan. Baik dalam bentuk kegiatan baik maupun kurang
baik, bisa saja dengan melakukan tidur seharian itu menjadi wujud dalam merileksasikan
pikiran dari kata stress.
Filter Ruang
Media Sosial
Membuka media sosial sekarang
ini akan banyak menguras energi yang tak berkesudahan. Berita ketimpangan sosial,
persentase pendidikan yang tidak sejalan, hukum yang makin tumpul, pemimpin
yang culas, dan program hina dina yang banyak menguras energi dan anggaran. Semakin
dewasa kita sadar bahwa semakin banyak tanggung jawab yang diemban, jika saat
kecil kita mungkin belum mengenal arti kebijakan dan pendapatan, sebuah kebijakan
yang sedang dibuat atau bahkan disahkan masih belum memahaminya saat itu.
Berbeda saat ini, usia sudah dewasa,
memiliki pendapatan, dan banyak tanggung jawab yang diemban lalu kontribusi
sebagai warga negara yang patuh akan membayar pajak. Saya pernah menonaktifkan
media sosial X dan instagram karena sudah sangat tidak sehat untuk dilihat,
setiap cuitan yang dibaca seakan mengganggu efek psikologis sebagai WNI hahaha.
Bagaimana tidak, setiap membaca cuitan kita akan terbayang-bayang bagaimana
nanti jika suatu saat anak-anak menempati negara ini di tengah carut marutnya
negeri? Ah yasudah lah. Akhirnya semua media sosial saya sembunyikan dari notifikasi
handphone, di mulai Whatsapp, Tiktok, dan platform lainnya. Untuk akun X
sudah saya hapus permanen, fb sudah saya hilangkan, Instagram dipakai seperlunya.
Semua media sosial saya atur karena saya yang tau kapan membutuhkannya dan
kapan tidak membutuhkannya. Bukankah tujuannya itu teknologi diciptakan hanya
sebagai tools bukan menjadi tujuan.
Konklusi
Sesibuk
apapun raga dalam melakukan aktivitas jangan sampai lupa untuk melakukan hobi
yang dapat membuat bahagia. Makan makanan yang disukai, bepergian dengan orang
terkasih, berbagi cerita dengan keluarga, dan selalu meluangkan waktu untuk
diri sendiri. Kesibukan yang dilalui semoga termasuk dalam kategori produktif,
segala sesuatu yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi untuk khalayak. Sebab
akan percuma jika rutinitas melabelkan kata kerja sibuk, tapi nihil yang
dihasilkan dan minim kontribusi. Badanmu menjadi tanggung jawabmu, jangan
sampai keputusan yang tertunda menjadi penyesalan di kemudian hari. Mari banyak-banyak
mengapresiasi diri sendiri.
Komentar